Gerak Pikiran Berdasarkan Kebiasaan

Gerak Pikiran Menurut Kebiasaan
Salah-satu anugerah Allah yang ada pada insan ialah pikiran. Kita semua mengetahui hal itu. Tapi tak semua kita sepaham atau seragam dalam mendefinisikannya.

Pikiran kita ialah kata-kata yang kita dengar di dalam benak atau kita ucapkan dengan lantang. Pikiran kita juga berarti tindakan kita. Sebab ketika kita menyampaikan atau melaksanakan sesuatu, disadari atau tidak, niscaya didahului oleh pikiran.

Misalnya, ketika kita mengatakan, ‘alangkah indahnya malam ini’, niscaya didahului oleh pikiran yang menyatakan malam ini indah. Demikian klarifikasi ihwal pikiran berdasarkan yang saya tangkap dari buku The Power karya Rhonda Byrne.

Buku itu juga menunjukan bahwa pikiran terus bekerja disadari atau tidak disadari, sekalipun kita sedang tidur. Bahkan kita lebih sering tak menyadari kerja dan proses pikiran itu.

Pikiran juga bekerja dengan cepat. Satu-satunya yang bisa mengetahui ke mana arah pikiran kita berjalan ialah perasaan. Karena itu, hendaklah kita segera menghentikan pikiran manakala ia berjalan ke arah yang negatif, serta merawatnya jikalau ia mengarah pada hal yang positif.

Saya tidak akan membahas hal itu. Jika Anda penasaran, silakan baca dua buku karya Rhonda Byrne, The Secret dan The Power. Yang ingin saya bicarakan di sini ialah ihwal bagaimana teladan pergerakan pikiran seseorang berdasarkan kebiasaannya.
Sebagaimana kita tahu, dalam kehidupan sehari-hari setiap orang mempunyai kebiasaan masing-masing. Kebiasaan itu bisa disebabkan lingkungan, keluarga, tokoh idola, ideologi tertentu, atau tuntutan dari sebuah tujuan, dan lain sebagainya. Dan niscaya kita pernah mendengar kalimat, sesuatu yang paling sulit diubah ialah kebiasaan.

Di antara semua faktor penyebab kebiasaan, sebagaimana tersebut, yang paling lebih banyak didominasi ialah lingkungan. Ada sementara pakar mengatakan, lingkungan membentuk kebiasaan. Kemudian kebiasaan membentuk aksara individu.
Kebiasaan pun mempunyai banyak jenis. Tapi untuk mempermudah pembahasan, saya akan membatasinya pada kebiasaan yang dilakukan seseorang pada waktu senggang. Ini juga mengingat sebuah ungkapan, kesuksesan masa depan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memakai waktu senggangnya.

Sampai di sini akan saya perkecil lagi tiga kebiasaan yang bersifat pribadi. Maksudnya kebiasaan yang dilakukan seseorang untuk mengisi waktu senggangnya tatkala ia sedang sendiri. Dalam hal ini, kebiasaan keluar kamar, nongkrong bersama teman-teman, atau yang sifatnya bersama tidak saya bincang di sini.

Baiklah, ada tiga kebiasaan umum yang dilakukan seseorang di kala waktu senggangnya. Ketiga hal itu adalah, menonton televisi, membuka internet, dan membaca buku.

Menyaksikan tayangan televisi banyak manfaatnya, tapi tak sedikit pula madaratnya. Setiap orang yang pernah menyalakan televisi niscaya tahu bahwa semua tayangan di sana tak sanggup diulang, kecuali iklan. Dan itupun tak sekehendak pemirsa. Semua tayangan itu terus bergerak ke depan mengikuti alur yang telah ditentukan. Kalau berdasarkan Art Buchwald, kekurangan televisi itu tak mempunyai halaman kedua.

Kurang lebih demikian teladan kerja pikiran orang-orang yang waktu luang dan hobinya sering habis di depan televisi. Pikirann terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Ia kurang bisa melihat ke belakang. Ketika menjumpai kejanggalan atau masalah, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti perintah. Kegalauannya terus bergerak seiring kerja otak.

Selanjutnya untuk para peselancar dunia maya. Banyak gosip cepat diunduh dari sana, di samping sisi negatifnya. Tapi bukan itu yang akan kita bahas. Bagi peselancar maya, niscaya tak absurd dengan istilah buffering, loading dan lain semacamnya.

Ketika membuka laman tertentu, jikalau koneksi lancar, maka akan tampak sekelebatan laman, perpisahan antara laman satu dengan laman selanjutnya. Jika koneksi tak lancar, maka kita dipaska menunggu buffering atau loading yang agak lama. Kadang layar hanya memunculkan gambar setengah-tengah atau sepotong-potong.

Koneksi yang tersendat tak hanya menyebabkan langkah ke depan agak terganggu, tapi juga untuk kembali ke laman sebelum sebelumnya susah dibuka. Koneksi dalam diri seseorang bisa disamakan dengan ketenangan batin kebahagian dan dan rasa santai dan sebagainya.

Terakhir yang kita bahas di sini ialah orang yang hobinya membaca buku. Inilah yang terbaik di antara ketiga hal tersebut di atas. Kita tahu buku terdiri dari halaman-halaman. Setiap kita selesai membaca satu muka halaman, maka kita akan membalik dan menutupnya. Ketika ada sesuatu yang masih dipertanyakan kita tinggal membuka kembali halaman sebelumnya yang telah tertutup rapat itu.
Di sini tergambarkan, setiap masa kemudian yang terlewati kita tutup rapat-rapat. Bila ada sesuatu yang perlu dilihat atau ditelusuri kembali kita tinggal membukanya. Tak perlu susah untuk mencari di halaman berapa. Sebab umumnya pembaca buku mempunyai cara penandaan masing-masing.

Jadi satu lagi keunggulan para penghobi baca buku, masa kemudian tak praktis membayang-bayangi menyerupai penghobi dunia maya. Juga tidak susah untuk ditelusuri menyerupai para pecinta televisi.
Demikian, agar bermanfaat. Maaf jikalau goresan pena ini kurang valid atau tidak komplet. Semoga kesediaan Anda membaca semakin melengkapi kekurangan goresan pena ini dari aneka macam macam sisi.

Komentar