Halo merupakan kenyataan optik yang diakibatkan oleh kristal es yang membentuk busur atau bundar berwarna putih dan bintik-bintik di langit. Halo sering terjadi di bersahabat matahari atau bulan tetapi sanggup juga di lokasi lain bahkan di pecahan non antagonis dari langit. Proses terbentuknya Halo sama menyerupai proses terbentuknya pelangi, hanya dalam hal ini pelangi yang terbentuk tidak mengandung air, sehingga yang tampak hanya bayangan saja berbentuk cincin. Kata Halo berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti lingkaran. Di beberapa negara, Halo disebut juga nimbus , icebow, atau
Gloriole .
Penyebab Terjadinya
Fenomena tersebut terjadi jawaban refleksi dan refraksi cahaya matahari/bulan oleh kristal-kristal es yang terdapat di awan cirrus, awan yang terletak di tingkatan atmosfer yang disebut troposfer, sekitar 5-10 km dari permukaan bumi.
Halo ialah fenomena optikal berupa bundar cahaya di sekitar sumber cahaya Matahari atau Bulan. Fenomena Halo ialah bundar menyerupai pelangi yang mengelilingi matahari. Halo ialah fenomena yang lebih sering terjadi di langit.
Pada umumnya halo melibatkan putaran radius 22° halo dan sundogs (Parhelia). Dalam gambar diatas, menerangkan matahari di kelilingi oleh 22° halo dan dilambungi (sisi) oleh sundogs. Parhelic circle ialah biasan cahaya kristal yang melepasi sundogs dan mengelilinginya. Kadangkala ia melapisi keseluruhan ruang langit dalam latitut yang sama dengan matahari. Pembinaan tangen ketinggian dan rendah (Upper Tangent arc and Lower Tangent arc) menyentuh secara terus dengan 22° halo sama ada di atas atau dibawah matahari. Pembuatan Lengkungan (Circumzenithal arc) akan terjadi di atas kristal tersebut.
Radius 22° gerhana matahari tidak kelihatan. Ia menyerupai helaian yang berlapis-lapis atau habuk pada permukaan awan cirrus yang nipis. Awan ini sejuk dan mengandung kristal es walaupun pada iklim yang sangat panas.
Gerhana matahari sangat besar, selalu mempunyai diameter yang sama dalam posisinya di langit. Kadang-kadang hanya sebagian saja yang muncul. Semakin kecil cincin cahaya yang terbias muncul mengelilingi matahari atau bulan, dihasilkan oleh corona dari lebih banyak tetesan air daripada dibiaskan oleh kristal es, hal ini bukan berarti menawarkan bahwa hujan akan turun.
Saat awan cirus hanya merefleksikan dan merefraksikan cahaya matahari, biasanya halo yang terbentuk hanya cincin yang tak berwarna. Namun jikalau pada sudut yang tepat, bisa terjadi juga dispersi sehingga cincin yang terjadi juga berwarna menyerupai halnya pelangi. Contoh refraksi yang sederhana ialah ketika anda melihat sedotan dalam gelas berisi air terlihat patah, atau permukaan dasar bak yang terlihat menjadi lebih bersahabat ke permukaan daripada yang sebenarnya.
Refleksi yang terjadi ketika cahaya melewati titik air, es atau kristal yang transparan hanya terjadi pada sudut tertentu saja. Sudut ini ditentukan oleh index refraksi medium tersebut. Contoh sederhana ketika kita melihat akuarium pada sudut tertentu beling akuarium yang tembus pandang tiba-tiba menjadi cermin, memantulkan bayangan isi akuarium.
Penyebab terjadinya kenyataan ini dijelaskan jago iklim Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Sudibyakto M.S nan menyampaikan bahwa penyebab terjadinya kenyataan tersebut ialah efek tertutupnya sinar matahari oleh partikel air nan ada di atmoster. Partikel air itulah nan mempunyai kemampuan buat membiaskan cahaya matahari sehingga tampak menyerupai cincin.
Masih berdasarkan Beliau, di ekspresi dominan hujan sangat berpotensi terjadi kenyataan halo ini alasannya ialah uap air naik pada ketinggian di atmosfer. Pada ekspresi dominan hujan banyak uap air nan naik ke atmosfer sampai mencapai lapisan troposfer. Ketinggiannya lebih kurang 10-40 kilometer. Akibatnya, suhu di lapisan troposfer menjadi sangat dingin, yaitu di kisaran minus 30-40 derajat Celsius.Pada ketika itulah, uap air di lapisan troposfer tersebut berfungsi sebagai beling nan bisa memantulkan cahaya matahari. Proses halo matahari intinya sama dengan proses terjadinya pelangi pada pagi atau sore hari sehabis hujan.
Komentar
Posting Komentar