Subhanallah... Para Perempuan Di Gerbong Krl Ini Rata-Rata Membaca Al-Quran

Ada pemandangan yang tidak lazim di kereta rel listrik (KRL) rute Parung Panjang-Tanah Abang, Lantunan merdu ayat Alquran terdengar sayup-sayup di salah satu gerbong kereta tersebut. Suaranya seakan sahut-menyahut. Kadang lantunan itu jelas, kadang seakan hilang alasannya ialah kalah dengan kerasnya decit bunyi rem kereta. Suara-suara merdu Alquran itu dilantunkan puluhan cukup umur wanita yang memenuhi dingklik di gerbong ketiga.

Karena kebetulan penumpang tak terlalu berjubel, mereka tampak rapi duduk memenuhi dingklik di sisi kanan dan kiri. Tangan sekitar 80-an wanita berhijab itu tampak memegang bersahabat Alquran kecil alasannya ialah KRL sering bergoyang-goyang. Kendati begitu, mereka tampak khusyuk mendaras Alquran meski penumpang juga keluar masuk ketika KRL berhenti tiap stasiun.

Puluhan pendaras dadakan ini merupakan santri-santri putri Pesantren Terpadu Darul Alquran Mulia Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keberadaannya di KRL di siang nan terik itu bukan untuk promosi KRL ataupun kegiatan pesantren. Layaknya penumpang lain, mereka tengah bepergian. ”Kami naik dari Serpong mau ke Bekasi, silaturahmi ke salah satu sahabat sekaligus khataman,” ujar Jihan Afifah, 15, salah satu santri.

Kehadiran Afifah dan puluhan teman-temannya tak ayal menyulap gerbong KRL seakan menjadi pesantren dadakan. Suasana gerbong ramai dengan para penumpang, tapi bukan penumpang biasa, melainkan yang tengah mengaji dan sebagian lagi menghafal Alquran. Soal mengaji di KRL, Afifah mengaku sama sekali tak diperintah oleh pimpinan ponpes.

Sebagai santri ponpes penghafal Alquran, berdasarkan cukup umur asal Tanah Abang, Jakarta Pusat ini, Alquran ialah kitab suci yang tak sanggup dilepaskan dari acara hariannya. Lebih-lebih di bulan yang penuh berkah dan limpahan pahala ini, berdasarkan dia, para santri berlomba mendaras sebanyakbanyaknya. ”Alhamdulillah puasa ini sudah khatam satu kali,” ujar cukup umur yang belum usang ini khatam menghafal 30 juz Alquran tersebut.

Atiqah, 15, santri lainnya juga mengaku sudah hafal Alquran sesudah tiga tahun mondok di Darul Alquran Mulia. Seusai kelulusan, Atiqah dan santri lain sekarang diberi kebebasan sejenak memegang ponsel. Di sela mengaji di KRL, mereka juga sesekali membuka-buka ponsel untuk chatting, mendengarkan musik lewat headshet atau sekadar bermain.

Meski pemandangan tak biasa, kehadiran puluhan santri ini justru menerima sambutan baik sejumlah penumpang lain. Mereka tampak tak terganggu. Bahkan mereka menilai hal ini sanggup jadi wangsit semoga penumpang terbiasa memanfaatkan waktu luang, lebih-lebih ketika Ramadan. ”Jujur salut, perlu dibudayakan di luar Ramadan,” ujar Ramli, salah satu penumpang asal Ciputat, Tangerang Selatan.

Di Bulan Suci dan di tengah kesibukan yang tinggi, banyak warga Jakarta memang terpaksa menjalankan ritualritual ibadah sunah di ruang publik. Mereka tetap berupaya mencari keberkahan bulan ampunan ini tanpa mengurangi intensitas pekerjaannya. Basori, PNS yang berkantor di daerah Lapangan Banteng, Jakarta Pusat mengaku tiap di KRL sebisa mungkin ia menyempatkan untuk mendaras Alquran.

Tak harus menenteng kitab suci, mendaras sekarang lebih simpel ibarat lewat smartphone. Dengan cara ini, ia berupaya bersikap adil (ta’ adul ) dalam membagi waktu antara bekerja dan beribadah. Banyaknya keutamaan dan keberkahan di bulan bulan ampunan menciptakan orang tak ingin melewatkan begitu saja.

Umumnya mereka mencicipi keteduhan yang sangat berbeda ketika menjalankan ibadah ketimbang hari biasa. Bahkan bulan ampunan justru terasa lebih merekatkan persaudaraan antarsesama. ”Saya pernah ketika berbuka di KRL, tanpa dikomando penumpang saling menyebarkan takjil. Ini keren dan menciptakan trenyuh,” tutur Mubarak, warga Depok.

Mengaji, saling menghargai sesama (tasamuh ), dan menyebarkan inilah potret kecil tradisi pesantren yang tak terasa telah dilakukan sebagian orangorang Jakarta kala di ruang publik. Di tengah tekanan hidup ibu kota yang kian ketat, nilai-nilai spiritualitas, kesederhanaan dan kebersahajaan itu berubah menjadi meski gres sebatas kala Ramadan. [Sumber: koran-sindo.com]

Komentar